KELOMPOK TENUN IKAT MELATI: MELESTARIKAN BUDAYA MENINGKATKAN EKONOMI

DINAS KOMINFO KAB. BELU – MINGGU (10/11), Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang kaya akan tenun ikat, tidak terkecuali Kabupaten Belu yang menjadi salah satu bagian dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kabupaten Belu memiliki empat etnis yang memiliki beragam variasi tenun. Salah satu adalah etnis kemak yang berada di Dusun Poba, Desa Sadi Kecamatan Tasifeto Timur. Usaha mempertahankan dan mengembangkan tenun ikat dengan membentuk kelompok tenun ikat. Diharapkan melalui kelompok tenun ikat ini, selain untuk melestarikan budaya tenun ikat dapat pula meningkatkan perekonomian para anggotannya.

Regina Soi Bere yang menjadi ketua kelompok Melati yang sudah terbentuk semenjak 5 tahun silam beranggotakan 11 Ibu Rumah Tangga (IRT). Menurut Regina, kelompok ini sangat membantu mereka dalam urusan keuangan, teristimewa untuk menjawab kebutuhan keluarga mereka masing – masing dari kebutuhan sehari – hari sampai dengan kebutuhan sekolah anak– anak mereka.

“ Yang menjadi keresahan para penenun dari kelompok tenun ikat Melati hampir sama dialami oleh penenun di seluruh wilayah NTT adalah masalah pewarisan teknik menenun kepada generasi muda sekarang ini. Ini harus menjadi fokus perhatian pemerintah dan masyarakat NTT di manapun berada,” ujarnya.

Untuk mendapatkan hasil tenunan yang baik, proses pewarnaan dilakukan dengan dua cara, baik menggunakan pewarna tradisional seperti campuran abu dapur, kapur sirih maupun jenis tenunan yang menggunakan pewarna buatan. Tenun yang menggunakan pewarna tradisional membutuhkan waktu yang lebih lama karena proses pembuatannya yang lumayan sulit dan harganya pun tentu lebih mahal.

Regina menambahkan pemasaran hasil tenun ikat bisa dijual secara langsung, melalui pesanan maupun lewat pameran lokal serta studi tenun yang di gelar sesuai program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu. Harga hasil tenunan pun bervariasi yang mengggunakan bahan pewarna alam tradisional harga berkisar Rp.1.000.000 hingga Rp. 2.000.000,- sedangkan tenunan yang menggunakan bahan pewarna buatan harga lebih murah antara Rp. 500.000,- hingga Rp. 600.000,-
Berita/Foto: Frans Leki & Sipri Luma